Nikmat dan Siksa Kubur

Bagi manusia patutlah merenung tentang diri dan kehidupannya, karena ia mengetahui bahwa kematian adalah akhir hidup untuk menuju kehidupan yang sebenarnya.
Manusia dikatakan hidup, bila ruh masih berada didalam jasad dan dikatakan mati, bila ruhnya terlepas dari jasadnya. Sejauh yang dicapai akal manusia tidaklah mampu menghakekatkan tentang ruh. Ruh itu urusan tuhan dan jangan dipertanyakan, kecuali bentuk-bentuk yang berkaitan dengan ruh. Seperti hidup dapat bergerak. Merasakan sakit. Dll. Akan tetapi kalau menjelaskan secara inti tidak mampu.


Takdir umur manusia telah ditentukan Allah SWT. Umur itu tidak akan lebih maupun berkurang dari yang telah ditakdirkan. Baik manusia itu mati dalam keadaan terbunuh maupun mati didalam keadaan wajar, maka itulah batas takdir umurnya. Bila takdir umur manusia telah habis, maka datanglah malaikat izroil menjalankan tugasnya yaitu mengeluarkan ruh dari tempatnya (jasad manusia)
Setelah manusia diletakkan didalam kubur. Maka Allah SWT mengembalikan ruh pada jasadnya dan juga dikemlaikan raga-raga dan akalnya.

Pertanyaan Alam Kubur, Siksa, dan Kenikmatannya
Sabda Nabi SAW :
“Bilamana seseorang telah dimasukkan ke dalam kuburan, dimana para pengantar sudah kembali si mayat sebenarnya mendengar bunyi sandal mereka.” (HR. Imam Bukhari, dari Anas ra.)

Artinya kepekaan roh terhadap alam dunia masih berfungsi sebagaimana keadaan masih hidup, Cuma mereka tidak bisa berhubungan dan berbicara dengan manusia, manusiapun tidak mendengar ratap jerit mereka.
Adapun mengenai proses pertanyaan alam kubur sedikit panjang melalui pergantian beberapa malaikat, termasuk malaikat Rauman. Ringkasnya dalam sabda Nabi SAW.
“Orang-orang munafik. Kafir ketika ditanyakan pertanyaan, mereka selalu menjawab :”Saya tidak tahu … saya tidak tahu.” Kemudian dia dipukul dengan palu besi yang sangat panas luarbiasa, sampai terdengar teriaka keras yang terdengar oleh segala makhluk, kecuali jin dan manusia” (HR. Imam Bukhari, dari Annas ra)
Kemudian ada hadits yang sedikit jelas prosesi alam kubur. Termuat dalam hasanah Imam Ghazali, dibawa melalui Ibnu Mas’ud yang bernama Abdullah.
“Saya (Abdullah bin Mas’ud) bertanya kepada Rasulullah. Apakah yang ditemui pertama kali oleh mayit ketika dalam kuburan ? Rasulullah menjawab : “sebelum ini belum ada yang pernah bertanya padaku seperti pertanyaanmu. (ketahuilah) mula-mula terdengar panggilan malaikat yang bernama Rauman.. Dia muncul dari sela-sela kubur dan berkata : “Wahai Hamba Allah, tulislah semua amalmu.” Dijawab oleh Mayat :”Saya tidak membawa tinta dan kertas. Malaikat Rauman berkata :’ Gunakan kain kafanmu sebagai kertas dan air ludahmu sebagai tintanya, dan penanya gunakan jari telunjukmu … (dan seterusnya)
Mayat itupun merobek kain kafan, air ludah tintanya. Dan jari telunjuk sebagai pena. Ditulis semua perbuatan-perbuatan sewaktu di dunia. Saat itu semua roh atau nafs bisa menulis sekalipun ketika di dunia tidak bisa menulis. Semua amal dicata tanpa satupun tersisa (atas Kehendak Allah) sekalipun dulu di dunia seorang pelupa atau perkara yang tidak ingat lagi, kala itu semua teringat atas Kehendak Allah Ta’ala.
Sabda Nabi SAW (Hadits Qudsi)
“Manusia semuanya digantungkan catatan perbuatan dilehernya”
(Dari Ibnu Mas’ud ra)
Artinya setelah nafs mencatat semua perbuatan baik buruk di dunia, kemudian digantungkan di leher mayit.
Sesesailah tugas malaikat Rauman atau Kiraaman Katibiin. Dia keluar setelah — kata sebagaian riwayat — Rauman juga mengembalikan roh ke dalam jasad mayit. Setelah itu datang malaikat Munkar Nakir yang bertugas mempertanyai kepada mayit. “Dua-duanya berwajah menyeramkan hitam kelam sesuai catatan amal yang tergantung di lehernya. Sorot matanya seperti kilat menyambar-nyambar, dan suaranya menggelegar seperti petir, dan tarikan nafasnya seperti badai topan yang menghancur. Selain itu ditangannya ada cemeti besi, yang bisa dipukulkan terhadap bumi akan hancur lebur.
Munkar nakir mempertanyakan kepada roh : (1) Siapa Tuhanmu. (2) siapa Nabimu, (3) apa agamamu, apa kiblat, dan seterusnya. Bagi orang kafir atau munafik atau yang tidak memperoleh Rahmat Allah, (sebagaimana sabda Nabi SAW diatas) akan menjawab, “Saya tidak tahu… saya tidak tahu!” lalu dipukul dengan cemeti besi berkali-kali.
Itulah alasannya kenapa sebagaian umat Islam ada yang menyerukan atau melaksanakan TALQIN terhadap mayit ; ialah memberitahukan kepada mayit saat-saat didatangkan malaikat-malaikat, dengan pengajaran, siapa tuhanmu “Allah”. Apa agamamu “Islam”. Dan seterusnya dalam lafadz talqih mayit. Sebab mayit itu bisa mendengar – seperti hadits diatas – bahwa sebatas suara sandal orang yang kembali setelah mengantarkan jenazah pun terdengar oleh mayit, apalagi talqin, untuk disampaikan khusus terhadap mayit (Insya Allah masalah ini akan diperjelas pada bagian lain)
Lain lagi bagi mayit yang beriman. Oleh malaikat Munkar Nakir, justru dipukulkan sekitar kuburan, sampai membentuk kuba yang dapat menjurus ke pitu surga, sehingga dari alam kubur nampak jelas keindahan-keindahan surga yang kelak ditempati.
Sepeninggal malaikat Munkar Nakir, datanglah malaikat hasanat dan malaikat sai-at. Malaikat hasanat ialah malaikat yang melayani kebaikan bagi mereka yang baik, seperti diberi alas tidur dari sutra atau kenikmatan lain-lain. Dan malaikat sai-at adalah khusus mereka yang jelek, dengan penyiksaan dan lain sebagaimana yang sekaligus potret-potret neraka yang kelak akan ditempati.
Jelasnya, siksa kubur itu berlangsung semenjak ia mati sampai kelak datang hari kiamat. Mereka yang berbahagia memperoleh kenikmatan dialam kubur, pun berlangsung sampai hari kiamat.
Lihatlah kisah nasib Abu Jahal yang tertuang dalam hadits ceirta Rasulullah SAW:
“ Suatu kami (putranya Umar bin Khathab) berjalan-jalan di kuburan mereka dalam perang Badar. Mendadak ada seorang laki keluar dari dalam bumi kuburan; dilehernya banyak lilitan antai, dimana ujungnya dipegang oleh seorang yang berwarna hitam (malaikat juru siksa). Orang (yang dililit rantai itu) berkata : “Tolonglah wahai Abdullah (putranya Umar bin Khathab) Tolong.. berilah aku minum!”
‘Saya tidak mengerti —kata Abdullah— kenapa bisa dia tahu nama saya seperti layaknya saudara memanggil saudaranya.’ Tapi orang yang memegang ujung rantai itu berkata :’Jangan, janganlah engkau beri minum, dia itu orang kafir.’ Orang kafir itupun langsung tenggelam lagi kebumi. Kata Ibnu Umar, ‘lalu aku adukan peristiwa ini kepada Rasulullah SAW, beliaupun menjawab: “Sesungguhnya orang yang engkau lihat itu musuh Allah, Abu Jahal bin Hisyam, yang memperoleh Siksa sampai hari kiamat.”
(HR. Imam Al Hafidz Wa-ily, dari Abdullah bin Umar ra.)

Ialah siksa kubur disiksa sampai hari kiamat tiba. Dan kelak siksa neraka –Abu Jahal—selama-lamanya. Ada juga yang sehabis dosa-dosa, kemudian dimasukkan kedalam surga.
Kebanyakan siksa kubur itu dijatuhkan karena sebab-sebab yang remeh, misalnya karena kencing yang tidak pakai cebok, adu domba, atau mulut bawel, dan lain-lain. Pernah disampaikan satu hadits, dan dibawah ini ditambahkan hadits Rasulullah SAW :
“Ketika Rasulullah SAW melewati dua kuburan, kemudian Rasulullah SAW bersabda :’Sesungguhnya 2 ahli kubur ini memperoleh siksa bukan karena dosa yang besar tapi siksanya cukum besar. (ialah) salah seorang diantaranya punya mulut yang rewel suka mengadu domba orang lain, dan seorang lagi karena kencing tidak bersih.” (HR. Imam Bukhari Muslim)
Siksa atau kenikmatan dalam kubur bukan artinya ada disekitar kuburan di belakang rumah. Disana bukan alam kubur, melainkan sebatas tempat jasad disemayamkan yang tidak lebih dari bagian alam dunia. Alam kubur itu alam ghaib yang tidak bisa diteliti oleh akal dan pikiran manusia. Kuburan laksana terminal ke arah alam kubur, dimana yang namnya terminal kadang pula ada kontak batiniah dengan tujuan (alam kubur), seabgaimana ada kontak hubungan antara terminal dengan tujuan seseorang. Seseorang ke terminal, bukan terminal itu tujuannya namun ia harus pergi keterminal sebab disana pusat kendaraan lalu lalang. Abu Jahal keluar dari dalam kuburannya dengan bentuk menakutkan dalam penglihatan Abdullah bin Umar, tapi Abu Jahal tidak ada dalam bumi itu, melainkan sekedar kontak batiniah secara kebetulan antara Abdullah dan Abu Jahal, dimana kontak itu bermula dari terminal, sebab terminal memudahkan sesuatu; kalau orang bepergian mudah mencari kendaraan, dan kalau orang dzikir memudahkan memusatkan pikiran antara Tuhan Allah dan orang yang dimaksud.
Apa seharusnya pergi keterminal? Jawabnya tidak harus. Orang bisa cari kendaraan sekalipun tidak diterminal. Artinya orang bisa mendoakan kepada mayit sekalipun tidak di kuburuan.
Jadi kenikmatan dan siksa alam kubur bukan yang ada di kuburan pinggir desa. Alam kubur adalah alam pertama bagi mereka yang menuju alam akherat, disanalah mereka baru mengetahui hakekat, disanalah mereka baru terbuka mata hatinya, dan disana pula akhir segala kenikmatan dunia.

Jasad Hancur
Hancur busuk dalam beberapa hari saja. Pernah dijelaskan : ada riwayat mengatakan bahwa, ketika 3 hari roh terpisah dari jasad, dia minta izin turun ke dunia melihat keadaan jasadnya. Disana roh sangat prihatin melihat jasadnya mulai menggelembung dan mulai keluar cairan menjijikan.
“wahai jasad …” kata roh. “Engkau tersiksa merana, ingatkah engkau di dunia selalu bermegah-megahan?”
Tiga hari dari kematian ia melihat jasad seperti itu. Sekarang 5 hari dari kematian, kembali minta izin kepada Allah untuk melihat jasad, dimana jasad itu mulai banyak dikerumuni cacing-cacing tanah, banyak cairan busuk, mulai digerogoti dan menjijikan. Spontan roh menjerit keras dan kembali lagi keasalnya.
Kemudian 7 hari dari kematian minta izin lagi kepada Allah untuk melihat jasad. Roh semakin sedih dan prihatin, sebab keadaan jasad sudah hancur tak berbentuk lagi, dan diantara busuk-busuk yang menyengat banyak dikerumuni cacing-cacing tanah dan ulat-ulat yang menggigukan, seperti memangsa makanan yang sangat nikmat sekali. Roh itu merintih, “wahai jasadku, beginikah keadaanmu setelah berpisah dengan ku? Mana bentuk-bentuk yang kamu banggakan dulu, yang kau sanjung karena cantik?”
Roh kembali ke langit ditempat sesuai amal perbuatan.
Tapi ada jasad manusia yang tidak bisa hancur oleh pelapukan tanah. Jasad itu bertahan lama bertahun-tahun masih utuh seperti mati kemaren saja. Misal jasad Abdullah bin Amr yang wafatnya dalam perang Uhud, 46 tahun kemudian terbongkar masih utuh, dan ada lagi peristiwa-peristiwa kelanggengan jasad dalam tanah. Mereka ada yang dari kalangan orang baik-baik, juga dari kalangan orang jahat, sebab konon, tidak hancurnya jasad juga terjadi pada orang yang terlalu jahat, misal Fir’aun, jasadnya masih utuh dan sekarang diabadikan di Musium London, ada yang mengatakan Belanda.

Golongan Jasadnya Tidak Hancur
Dibawah ini adalah sekelompok jasad yang tidak hancur diketengahkan oleh Nabi SAW :

Artinya :
Sepuluh kelompok tidak akan hancur (jasadnya) ialah : (1) para Nabi, (2) Orang-orang yang berperang (berjuang dijalan Allah), (3) Orang-orang alim, (4) Orang-orang yang mati sahid, (5) Orangyang hafal Al Qur’an (6) Paara Mu’adzdzin, (7) wanita meninggal dikala nifas (ada yang mengatakan ketika melahirkan), (8) Orang yang mati karena dianiaya; (9) Orang yang mati pada hari Jum’at dan (10) Orang yang mati malam Jum’at.” (Hadist Shaheh)

Adalah jasadnya saja yang tidak bertitel Mu’adzdzin misalnya, melainkan hati juga condong ikhlas kesana tanpa ada niat-niat lain. Misal mengajar madrasah juga berjuang, namun bersama hatikah atau terpaksa ? atau dalam hati masih ada keinginan lain yang dapat mengurangi kemurnian hati sebagai seorang pejuang agama? (semoga Allah melindungi, merahmati, dan memberkati mereka , Allaahuma Shalli alaa sayyidinaa Muhammad, Amiin )
Atau seorang pejuang agama dalam arena apapun lembaga misalnya, dan niatnya agar “Jasd dikuburan tidak hancur”, ini pun tidak suci, bahkan dia akan hancur sehancur-hancurnya. Niat yang suci terang bersinar ialah “Karena Allah Ta’ala.”
Adapun orang yang jahat sejahat-jahatnya ditakdirkan Allah tidak hancur, bukan artinya ia baik, melainkan ketidakhancurnya sebagai I’tibar (pelajaran) bagi orang-orang yang berakal : bahwa jasad inilah orang yang durhaka. “jangan engkau mewarisi perbuatan jahatnya”