Bismillahirrohmaannirrohiim

 

Alhamdulillah, alhamdulillahirobbil ‘alamin…..

Pertama-tama..Marilah kita panjatkan puji syukur kehadlirat Allah SWT atas segala rahmat dan nikmatNya terutama nikmat Iman dan Islam sehingga kita semua dapat hadir dalam majelis Sholat Subuh yang Insya Allah dirakhmati oleh Allah SWT.

Sholawat serta salam senantiasa kita tujukan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, Shahabat, serta para pengikutnya yang Insya Allah tetap istiqomah hingga Yaumul Akhir nanti.

Pada kesempatan kali ini saya hanya akan mencoba menyampaikan mengenai suatu penelitian yang dilakukan oleh seorang Doktor dari Amerika.

Seorang Doktor Neurologi (ilmu syaraf) di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya didalam  penyelidikannya. Ia amat kagumdengan penemuan tersebut karena seolah tidak dapat diterima oleh akalfikiran.

Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf didalam otak manusia ini tidak dimasuki
oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara lebih normal.

Setelah membuat kajian yang memakan waktu akkhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf didalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut sholat yaitu ketika sujud.


Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sholat yang diwajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan
ciptaan Allah.

Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sholat maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.
Kesimpulannya :
Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak sholat apalagi bukan yang beragama Islam  walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang
pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun
akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul
bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini. Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ?

 

Rasulullah menegaskan, ”Barang siapa yang shalatnya tidak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka tiada bertambah baginya kecuali semakin jauh dari Allah.” (HR Ali Ibnu Ma’bad).

 

Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Akan datang pada manusia (umat Muhammad) suatu zaman, banyak orang yang merasakan dirinya shalat, padahal mereka sebenarnya tidak shalat.” (HR Ahmad

Karena itu, dalam mengerjakan shalat tidak boleh lalai. Yang dimaksud lalai adalah tidak mengetahui maksud apa yang dibaca dan apa yang dikerjakan, apalagi jika kurang memperhatikan syarat rukun dan ketentuan-ketentuan shalat lainnya. Maka, yang diperoleh hanyalah payah dan letih. Rasulullah menyatakan, ”Berapa banyak orang yang shalat (malam), keuntungan yang diperoleh hanyalah payah dan letih.” (HR Ibnu Majah). Jadi, meskipun merasa dirinya shalat, tapi hakikatnya tidak shalat. Dan, ia tidak akan mendapatkan hikmah shalat. Shalatnya pun tidak menambah dekat kepada Allah, tapi justru sebaliknya. Rasulullah menegaskan, ”Barang siapa yang shalatnya tidak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka tiada
bertambah baginya kecuali semakin jauh dari Allah.” (HR Ali Ibnu Ma’bad)

Nah, zaman yang diprediksikan Rasulullah tadi tampaknya sudah terjadi kini. Isyaratnya, meskipun bangsa Indonesia mayoritas Muslim dan tentu saja banyak yang shalat, tapi tak sedikit pula di antara mereka yang masih tetap melakukan perbuatan keji dan munkar. Ironisnya, dari hari ke hari frekuensinya tidak semakin menurun, bahkan dari segi kuantitas maupun kualitasnya semakin meningkat, seperti tindak KKN, perzinahan, dankejahatan lainnya. Padahal, jika shalat bisa dikerjakan dengan baik dan benar, dengan memperhatikan syarat rukunnya, sah batalnya, dan kesunahannya, maka hikmahnya sangat besar, baik dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Misalnya saja, manifestasi dari rukun qouli (bacaan dalam shalat) akan menjadikan orang tidak mudah berkata bohong, memfitnah, dan berkata kotor lainnya. Manifestasi dari rukun fi’li (gerakan dalam shalat), tangan tidak akan digunakan untuk menjamah sesuatu yang dilarang agama, dan kaki pun tidak melangkah kecuali yang diridhoi Allah. Demikian juga anggota tubuh lainnya.
Sedangkan manifestasi dari rukun qolbi (kekhusukan hati), maka jiwanya tidak akan mudah dihinggapi penyakit rohani, seperti hasut, iri, dengki, dendam, dan sombong. Misal lainnya adalah sujud. Sujud merupakan simbol penghambaan (ketaatan) tertinggi seorang Muslim. Karena posisi sujud adalah meletakkan kepala di lantai (tanah). Orang yang bersujud berarti telah rela meletakkan kepalanya yang terhormat ke lantai yang diinjak oleh kaki. Ini artinya orang yang sujud itu telah bersedia mematuhi ketetapan-ketetapan hukum (syariat Islam) secara totalitas dalam semua aspek kehidupan. Rasulullah mengumpamakan orang yang mengerjakan shalat lima kali sehari
semalam itu seperti orang yang mandi untuk membersihkan kotoran yang ada di badan. Kata Rasulullah, ”Bagaimana pendapatmu jika ada sungai di depan rumahmu, lantas kamu mandi di situ sehari lima kali, apa masih kotor badanmu?” Para sahabat menjawab, tidak ada kotorannya sama sekali. Kemudian beliau bersabda, ”Maka, seperti itu juga shalat lima waktu, maka Allah akan menghapus dosa-dosa dengan shalat.” (Bukhari-Muslim).